Pendekatan Sosiologis dalam Penelitian Pertelevisian

By | August 3, 2010

BEBERAPA PENDEKATAN SOSIOLOGIS

DALAM PENELITIAN  PERTELEVISIAN

JURNAL CAPTURE VOL. 1 NO. 1 DESEMBER 2009

Right or Left is Honey

  1. Latar Belakang

Penelitian dalam Bahasa Inggris disebut dengan research merupakan gabungan dua kata ’re’ dan ’search’ yang merujuk pada suatu  usaha untuk menemukan kembali. Apa yang dicari tentunya suatu permasalahan/pertanyaan dari sebuah fenomena yang terjadi, perbedaan antara apa yang dilihat dan apa yang diharapkan.  Jadi penelitian adalah seperangkat usaha untuk mengetahui, mengidentifikasi, menjawab hingga memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi.  Lalu masalah seperti apa yang dapat dilakukan penelitian?  Tentu adalah masalah ilmiah sehingga peneltian yang dilakukan juga bernilai ilmiah. Memang tidak semua masalah dapat diteliti secara ilmiah jika masalah dimengerti sebagai perbedaan atas semua yang dihadapai dengan semua yang diinginkan,    maka penelitian ilmiah harus berbarengan dengan seperangkat sistematika dan metodologi  penelitian ilmiah.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, metode penelitian sudah lama dikenal.  Zaman Yunani kuno, Plato beserta muridnya aristoteles telah menggunakan metode penelitian ilmiah yang paling sederhana yaitu wawancara.  Pada waktu itu sekitar abad ke – 4 sebelum masehi, Plato memulai melakukan dialog serta interview atau wawancara tentang sebuah masalah yang sangat terkenal yaitu “Mengapa bangsa kita (Bangsa       Athena) dapat dikalahkan oleh bangsa Sparta dalam perang  Pheloponesus? “ Plato mulai menanyakan hampir ke semua orang yang ia jumpai. Setelah ia merasa cukup ia menarik kesimpulan bahwa bangsa Athena terlalu percaya diri setelah sebelumnya mengalahkan bangsa Persia dalam peperangan yang lebih besar dan memandang remeh lawan bangsa Sparta yang tidak sebesar bangsa Persia. Singkatnya, dalam kaitan dengan metode penelitian,  apa yang dilakukan Plato dan muridnya adalah sebuah  metode yang diakui sebagai salah satu teknik pemereolehan data secara interview atau wawancara.

  1. Fungsi dan Hakekat  Pertelevisian
  1. Fungsi Televisi

Sejarah awal mengudaranya  televisi pertama kali adalah BBC (British Broadcasting Corporation) yang diresmikan  dari Istana Alexandra di London, Inggris pada tanggal 2 November  1936. (Newby, 1997:43)  Pada tahap ini fungsi televisi ditunjukkan sebagai suatu alat elektronik yang modern untuk menyampaikan sajian audio visual: ”Television should provide a service of information, education and entertainment,  without direct intervention from goverment and commerce”. (Marshall and Wrendly, 2002:2)  Pernyataan  di atas menunjukkan bahwa fungsi televisi menurut John Reith sebagai Direktor Jenderal yang  pertama  BBC  yang dinyatakan oleh Marshall dan Wrendly sebagai Visi BBC. Dia sangat menyakini jika televisi harus menyediakan layanan  informasi, pendidikan dan hiburan secara independen tanpa intervensi dari pemerintah maupun badan lainnya. Prinsip dan implikasi utama yang dipakai Reith pada saat itu  adalah menyiarkan acara-acara musik klasik, sejumlah permainan mendidik, dan diskusi sebagai media pembelajaran pemirsa.

Televisi sebagai sebuah prestasi kehidupan manusia pada hakekatnya tidak berbeda dengan prestasi kehidupan manusia lainnya.  Seperti contoh penemuan robot di bidang teknologi hingga teknologi cloning di bidang kesehatan.  Makna serta peran televisi juga tidak lebih menakjubkan dibanding dengan makna serta peran robot juga cloning. Apabila hakekat masing-masing prestasi tersebut dikomparasikan , maka televisi tidak dalam posisi paling super dalam hal makna dan peran.  Bagaimana dampak buruk televise sebagai akibat makna dan peran tadi telah ditunjukkan oleh serangkaian penelitian , antara lain : Mahayoni dan Hendrik Lim dalam  Anak Vs Media : Kuasailah Media Sebelum Anak Anda Dikuasainya (2008), Milton Chen dalam Mendampingi Anak Menonton Televisi (2005),  Sunardian Wirodono dalam Matikan TV – mu (2006), Johanna Michaelsen dalam Bagaikan Domba Kecil Dihadapkan   Pembantainya (2001),    Neil Postman dalam   Menghibur Diri sampai Mati (1995),  Children’s Television (1989) oleh Cy Schneider. Selanjutnya bagaimana dampak buruk robot serta cloning  sebagai akibat makna dan peran tadi telah ditunjukkan oleh serangkaian kegelisahan yang juga menyentuh sisi-sisi peri kemanusian.

Ilmu Sosial, sebagian sarjana menyebut Sosiologi, meletakkan makna dan peran terhadap prestasi kemanusian sebagai obyek social yang sangat serius.  Penemuan robot misalnya,  sudah mengantikan peran tenaga kerja manusia di bidang industry.  Bagaimana pabrik-pabrik lebih memilih menggunakan tenaga robot, ban berjalan, ataupun mesin penutup kaleng atau botol meskipun ia sangat sederhana daripada menggunakan tenaga manusia.  Alasan waktu dan presisi atau apapun ujungnya adalah menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan.  Laba dan keuntungan adalah keharusan yang dikejar terus-menurus dengan mengorbankan sisi humanis tenaga kerja manusia yang berujung pengurangan tenaga kerja.

Ilmu Sosial juga sangat lantang mengkritisi dan menentang teknologi cloning yang sekarang berkembang secara tidak terkendali. Makna dan peran teknologi cloning sudah bergeser sangat jauh.  Teknologi ini secara sederhana sudah menyatu dengan kehidupan manusia.  Bagaimana di pedesaan dan pertanian sederhana, para petani atau ibu-ibu rumah tangga sudah sangat akrab dengan teknologi mencangkok – sebagai bentuk cloning sederhana. Buah yang  dihasilkan dari mencangkok pohon  mangga akan  menghasilkan buah-buah mangga yang mempunyai kualitas sama dengan induknya.  Satu pohon mangga manis dapat diperbanyak  menjadi dua, tiga atau seberapa banyak diinginkan.  Tidak ada dampak negative yang ditemukan baik secara social, ekonomi, maupun normative.

Bagaimana dengan cloning manusia yang sudah dikonfirmasikan oleh dokter-dokter di Italia?  (www.yahoo.co.uk) diakses Maret 2009.  Ilmu social maupun kaum agamis sangat lantang memprotesnya.  Secara sosiologis, keberadaan cloning atas manusia jelas akan merusak salah satu elemen penting ilmu social yaitu keluarga. Bahkan daya rusaknya lebih dahsyat daripada teknologi inseminasi buatan manusia.  Hakekat keluarga dalam ilmu social yang mensyarakatkan interaksi antara ayah, ibu dan anak-anak hasil perkawinan mereka sekarang menjadi remang-remang.  Siapapun tanpa terkecuali yang secara teknologi cloning telah didiagnosa baik maka pihak tersebut mampu untuk dilakukan cloning, maka ia dapat memiliki ‘anak’ .  Pemberian ‘…’ adalah menunjukkan tidak ada perkawinan antara ibu dan bapak sehingga pantas untuk mendapatkan  sebutan anak.

Melihat komparasi antara makna dan peran televise,  robot dengan cloning cukup memberikan kesimpulan umum  (penelitian lebih mendalam sangat disarankan baik oleh peneliti di kemudian hari atau peneliti lain sebagai salah satu stimulus) bahwa televise bukanlah prestasi manusia yang memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya.

  1. Hakekat Televisi

Televisi sebagai salah satu prestasi kemanusian ternyata memiliki hakekat yang khusus yang dapat dijabarkan menjadi beberapa buah konsep.  Pertama,  televisi dapat dikonsepkan secara fisik berupa  suatu barang elektronik yang  sekarang menjadi piranti yang paling menglobal. Keunggulan media massa tersebut tentu bukan sosoknya yang berukuran kotak atau persegi panjang  dari 14 inchi hingga diatas 52 inchi ataupun harga mulai Rp.700.000 hingga diatas  Rp.7.000.000 . Tetapi sifat jangkauan televisi yang sangat luas dan dapat diakses oleh hampir tak terbilang pemirsanya ditambah efek audio visual yang mempermudah menerbar pengaruhnya

Kedua, televisi juga dapat dikonsepkan sebagai seperangkat sajian /program acara.   Program acara televisi yang secara tekstual merupakan daftar yang berisi berderet dan berurutan acara-acara yang disiarkan atau akan disiarkan oleh televisi.  Contoh ekstrem dapat diperoleh dari para pengemis yang duduk di sebelah pintu masuk sebuah terminal bus.  Mereka telah duduk di tempat tersebut dari pagi, hingga siang bahkan menjelang malam, pendek kata seharian dan berhari-hari.  Sambil mengemis, sebagai sebuah profesi,  kepada orang-orang yang lalu lalang, mereka  secara tidak sengaja menjadi penonton televisi yang dipasang di sebelah atas ruang tunggu. Selama rentang waktu  itu pula mereka menonton / mendengar televisi tanpa sela/ jeda.  Program acara televisi terus menerus ada, justru para pengemislah yang meninggalkan tempat untuk berbagai keperluan. KOnsep televisi sebagai seprangkat program acara ini sering kali memunculkan kritikan hingga tindakan ‘boikot’ yang bersumber pada dampak buruk yang luar biasa mengingat pengaruh luas yang ditimbulkannya. Ilustrasi  sang pengemis diatas yang memperoleh uang dari mengemis, mendapat informasi apapun perspesinya dari televisi, dapat melakukan keperluan lainnya, maka  dapat dikatakan televisi dalam hal ini dapat menghibur diri sang pengemis tersebut sampai mati.

Ketiga,  televisi juga dapat dikonsepkan sebagai alat ekonomi pemiliknya.  Sesuatu yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa aktor yang paling berperan dalam televisi terutama penyusunan daftar acara televisi adalah sang pemilik televisi. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, televisi menjelma sebagai sebuah industri besar berskala milyaran. Untuk dapat menjalankan televisi diperlukan milyaran uang, dengan alokasi penggunaan mulai dari sekuriti,  administrasi, staf dan manajer pada piranti produksi, promosi hingga jajaran direksi. Masing-masing divisi memerlukan sejumlah besar uang  sehingga adalah logis jumlah keseluruhan kapital yang diperlukan sangat besar.  Oleh karena itu pihak direksi tentu memiliki perhitungan rasional untuk mempertahankan keberadaannya  dengan memasang sisi ekonomi sebagai profit oriented.

Sisi ekonomi sebuah industri televisi adalah rasional dan fungsional. Secara ilmu sosial sisi ekonomi ini adalah rasional.  Sesuatu yang melibatkan kapital besar maka ia akan memiliki resiko yang besar pula sehingga muara dari besarnya kapital tersebut adalah produk televisi harus mampu mendatangkan keuntungan  kapital yang juga besar dengan mengandeng pemasok kapital besar yang direprentasikan sebagai pemasang iklan sebanyak-banyaknya.

Secara ilmu sosial, industri televisi juga harus fungsional.  Fungsional di sini merujuk pada pendapat Robert King Merton memiliki paling sedikit dua bagian. Pertama, televisi harus secara nyata menunjukkan fungsinya dalam hal ini di mata pemasang iklan.  Televisi harus berfungsi sebagai alat pembujuk pemirsanya yang paling handal, murah dan luas  untuk tertarik dan membeli produk yang diiklannya.  Televisi harus mengemas sedemikian rupa sehingga sebanyak mungkin pemirsanya mengetahui, tertarik, terpengaruh dan mempercayai semua produk yang diiklankannya untuk kemudian mereka  mau membeli .

Berikutnya, televisi juga secara fungsional harus bersifat latent dan terus menerus. Televisi harus menunjukkan dirinya terus-menerus berfungsi. Meskipun nuansa ekonomi berupa profit orioented jelas terlihat, televisi harus menyeimbangkan dirinya dengan fungsi lainnya baik itu pendidikan, hiburan maupun informasi.  Ketika televisi mulai dinyalakan, fungsi ekonomi memang selalu tampak dan menyertai. Tetapi pemirsa juga harus mendapatkan fungsi-fungsi tersembunyi lainnya yang diinginkan. Dari kacamata televisi,  jajaran direksi hingga staf kreatif mungkin memiliki sebuah fungsi atau misi tertentu yang hendak disampaikan melalui sajian daftar acaranya yang sifatnya dapat sangat beragam.

  1. Beberapa Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Pertelevisian

Sebagian besar sarjana Ilmu Sosial telah membagi disiplin sosiologi ini menjadi dua aliran besar yaitu Ilmu Sosial Makro dan Ilmu Sosial Mikro.  Ilmu Sosial Makro atau oleh sebagain sarjana yang lain  disebut sebagai Grand Theories menekankan seperangkat teori besar yang digunakan sebagai ibu kandung Ilmu Sosial. Teori seperti Fungsional dari Emile Durkheim dan Teori Konflik atau Kelas dari Karl Marx adalah salah satu contoh di dalamnya.

Sementara itu, teori Sosial Mikro adalah seperangkat teori dalam ilmu Sosial yang datang belakangan.  Oleh sebagian sarjana teori ini disebut dengan middle range theories .  Teori seperti Fenomenologi dari Edmund Husserl serta Teori Interaksi Simbolik dari Herbert Blummer adalah salah satunya.  Dalam kajian berikut akan dipilih beberapa pendekatan/teori dari ilmu sosial untuk menjadi pisau analisis terhadap penelitian pertelevisian.

  1. Teori Interaksi Simbolik

Pendekatan atau sebagian besar sarjana lain menyebut teori Interaksi Simbolik berpusat di Amerika berupa prestasi ilmiah dari sang guru dengan murid, George Herbert Mead dengan Herbert Blummer.  Mereka beranjak pada pandangan bahwa dunia social mempunyai keunggulan daripada lainnya karena dari sinilah timbul pikiran, kesadaran dan interaksi dalam masyarakat. Dalam Mind , Self and Society yang menjadi salah satu buku pegangan terpenting dalam Sosiologi kontemporer,  Mead menegaskan bahwa yang pertama adalah social group sebagai aktivitas yang kompleks. Selanjutnya berkembang ke pada tiap-tiap individu yang mulai memikirkan keberadaannya, hingga kesadaran pribadinya. (1996: 333-5) Mead berkutat pada empat premis pijakan yaitu stimulus, perception, manipulation, consummation. Kempat pijakan ini dapat dilihat dalam penelitian pertelevisian. Ketika Mead mengambil contoh hunger / kelaparan maka dalam penelitian pertelvisian dapat diangkat contoh infotainment. Stimulus berupa rasa ingin tahu tentang abar dari selebritis atau artis yang sedang terkenal. Berikutnya stimulasi tersebut akan membawa inner state of the actor/ dorongan dari dalam actor untuk mencari pemuas dari rasa keingintahuan tersebut. Pada tahap ini implus terkait dengan lingkungannya. Bagaiman rasa lapar muncul dan rasa keinginan terhadap berita melalui ‘infotaiment’ selalu melibatkan actor dengan lingkungannya.

Pada tahap kedua, persepsi, actor mulai mencoba untuk mencari, meneliti dan bereaksi terhadap stimulus. Pada contoh hunger , actor dapat menerapkan persepsi : mencium, mencicipi, merasakan  hingga makan. Dalam infotaimnet, actor dapat mendengar, mencari , hingga menonton.

Pada tahap ketiga ‘manipulation’ berupa proses mental. Disini actor berada dalam posisi menilai/memanipulasi stimulus. Rasa lapar digambarkan sebagai suasana dihidangkan setumpuk berisi berbagai jamur. Untuk dapat menikmatinya, manusia harus memanipulasi jamur sehingga enak untuk dimakan. Demikian juga ‘ infotainment’ . Aktor harus melakukan manipulasi erhadap acara infotainment supaya layak untuk diminati. Lebih dari itu infotaonment juga dipilih dan dipilah  sejalan dengan tujuan aktor dan jenis berita dalam infotainment sendiri.

Pada tahap keempat consummation. Mead menjelaskan sebagai tahapan dimana actor melakukan tindakan unuk memuaskan hasratnya/ satisfies the original impulse. Rasa lapar dan setumpuk jamur mengakibatkan actor dalam posisi konsumasi yaitu makan sedikit dan selektif. Aktor dapat terpuaskan rasa lapar tetapi ia dapat menolak hal-hal yang berbahaya. Demikia juga infotainment. Aktor dapat mengkonsumasi semua acara infotainment. Mereka harus menolak dan membuang infotainment yang berbahaya, dan tidak dibutuhkan.

Tongak teori interaksi simbolik mencapai punyaknya di tangan sang murid Herbert Blummer.  Istilah interaksi simbolik diderivasi dari aliran pragmatisme bahwa manusia merupakan produk social tetapi mereka sanggup menggunakan kreatiitas dan memiliki ‘tujuan’. Blummer melengkapi sekaligus mempertajam pijkan yang diberikan Mead bahwa manusia dalam bertindak dan berperilaku berdasarkan makna dan arti tindakan itu bagi dirinya. Manusia bertindak dengan melalui symbol dan proses interaksi social