ANALISIS TERJEMAHAN

By | August 3, 2010

MASALAH  PENERJEMAHAN ISTILAH METODOLOGI PENELITIAN

(PROBLEMS ABOUT TRANSLATING OF RESEARCH METHODOLOGY TERMS)

Donie Fadjar Kurniawan

doniehoney@yahoo.co.uk

ABSTRACT

This paper is a  research focusing  in text analysis and its translating context.  The objectives of the study  are (1) to describe the translation  of research methodology terms from English source text into Indonesian target text,   (2) to explain the reasons why this translation occurred (3) to make a sense whether meaning shift occurred in the process of translating the research methodology terms, and (4) to know the readers’ response toward  the Indonesian target text.

The conclusions of this research are : First, there are  three categories of the translation result  in research methodology terms namely : high accuracy, middle accuracy and  low accuracy.  Second, the reasons why this translations occurred are the translator cannot catch the meaning of the term and it tends to make him fail to choose the right equivalent words, Third, meaning shift occurs when the translators are not able to catch the word meaning.  Then, the translator failed  to categorize the  research methodology terms. Next,  the translator   frequently uses  free translation without mastering the linguistic and subject matter competence.  Forth, the readers’ response into the translation of research methodology terms is important in order to judge if these terms can be easily read and understood.

Key words   : translation ,  research methodology terms

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Telah banyak literatur yang memberikan keterangan mengenai apa yang dimaksud dengan penerjemahan beserta berbagai penjelasannya. Walter Benjamin salah satunya,  menyebutkan bahwa “ what good translation does is to express the central reciprocal relation between languages” (dalam Munday, 2001 : 169). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penerjemahan yang baik harus mengungkapkan segala hal baik yang tersurat maupun yang tidak tersurat dari kedua bahasa yang terlibat.  Seiring dengan itu, untuk menghasilkan terjemahan yang baik  melalui kemampuan mengekspresikan hubungan timbal baik tersebut maka penerjemah harus terus meningkatkan kemampuan serta keterampilan penerjemahannya. PACTE  2003 (Process in Acquisition of  Translation Competence and  Evaluation)  mengisyaratkan berbagai kemampuan untuk itu.  Salah satu kemampuan penerjemahan yang sangat penting adalah  subject matter competence yaitu pengetahuan di bidang ilmu yang diterjemahkan.  Penerjemahaan  bidang sastra memerlukan pengetahuan di bidang itu, demikian pula penerjemahan bidang ilmu pengetahuan.

Penerjemahan di bidang ilmu pengetahuan sekarang ini memainkan peranan yang sangat strategis. Mereka yang tidak ingin tertinggal harus mengikutinya dengan segera.  Oleh karena itu penerjemah dituntut terus mengikuti perkembangan  di bidang ilmu pengetahuan ini supaya ia mampu menghasilkan karya terjemahan yang berkualitas yang dapat dengan cepat dinikmati oleh masyarakat pengguna baik orang awam maupun akademisi.

Penulisan di bidang penelitian dan ilmu pengetahuan  menuntut pemenuhan terhadap ketepatan metodologi penelitian. Upaya penerjemahan teks-teks di bidang metodologi penelitian sangat diperlukan mengingat terbatasnya jumlah buku di bidang tersebut. Disadari bahwa sebagian besar buku-buku metodologi masih merujuk kepada buku-buku berbahasa asing terutama Inggris yang mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Teks dalam bidang metodologi penelitian ini merupakan teks yang seringkali sulit dipahami apabila tidak melihat konteks kalimatnya.  Salah satu contohnya terlihat dari istilah-istilah metodologi penelitian dari bahasa sumber (BSu) dalam bahasa Inggris diambil begitu saja atau sulit ditemukan padanannya dalam bahasa sasaran (BSa) dalam bahasa Indonesia. Hal ini menegaskan apa yang disebut Newmark sebagai certain particular problems. Berkenaan dengan ini, Newmark menyatakan “The translation theorist is concerned with certain particular problems : metaphor, synonyms, proper name, institutional and cultural term, gramatical, lexical and referential ambiguity” (1981:32). Seiring dengan itu, hal  yang  juga penting adalah pemahaman terhadap bidang metodologi penelitian.  Oleh karena itu penerjemahan istilah ini memerlukan suatu kerja serius yang paling tidak mencakup keduanya. Inilah yang menjadi alasan utama  penelitian ini. Alasan berikutnya  adalah keberadaan   metodologi penelitian dalam suatu penulisan ilmiah berperan sangat penting. Peneliti dituntut untuk menguasai atau setidaknya mengetahui  secara benar bidang metodologi penelitian. Hal ini tidak mudah karena banyak kesulitan disebabkan buku metodologi penelitian masih ditulis dalam bahasa Inggris.

Berikut ini adalah beberapa contoh yang menunjukkan kesulitan penerjemah dalam menerjemahkan istilah-istilah  metodologi penelitian dalam  buku tersebut :

  1. BSu : Basics of Qualitative Research  Grounded Theory Procedures and

Techniques

BSa : Dasar-dasar Penelitian Kualitatif  Tatalangkah dan Teknik-teknik

Teoretisasi Data

2. BSu : What is a Grounded Theory?

A grounded  theory  is  one that  is  inductively  derived  from the

phenomenon  it represents

BSa :: Apa Makna “Grounded Theory”?

Teori  yang  grounded  adalah  teori yang  diperoleh secara  induktif

dari penelitian tentang fenomena yang dijelaskannya.

Data di atas menunjukkan  penerjemah mengalami kesulitan dalam menerjemahkan istilah grounded theory.  Contoh no 1, penerjemah menggunakan teoretisasi data tetapi contoh no 2, penerjemah mempertahankan istilah grounded teory tetapi kemudian mereka mengubahnya menjadi teori yang groundedGrounded theory merupakan contoh istilah metodologi penelitian yang bermakna suatu metode dalam penelitian kualitatif yang menekankan pada dunia nyata. Kemudian berdasarkan dunia nyata dibuat kategori-kategori. Akhirnya teori-teori dibuat berdasarkan kategori dari dunia nyata tersebut. Strauss  dan Corbin (1990:4) menyatakan bahwa teori grounded adalah teori yang diperoleh secara induktif tentang fenomena  kehidupan pribadi, tindakan, tingkah laku dan hubungan personal serta interaksi dalam masyarakat. Teori  grounded disusun dan dibuktikan melalui pengumpulan data secara sistematis dan langsung dari lapangan sehingga alam teori grounded, pengumpulan data, analisis data, dilakukan secara saling terkait dan timbal balik.

Alasan kuat berikutnya mengapa peneliti tertarik dengan topik ini adalah belum adanya Kamus Istilah Metodologi Penelitian (KIMP). Hal ini mengingat  untuk mendapatkan hasil terjemahan yang baik, salah satu alat bantu yang penting adalah kamus istilah dalam hal ini KIMP.  Beberapa bidang ilmu lain telah mempunyai kamus istilah antara lain : Kamus Politik oleh Marbun, B.N (1996) ; Encyclopedia of Goverment and Politics oleh Horst Grill (2000);  Kamus Linguistik oleh Harimurti K (1993); Longman Dictionary of Applied Linguistics oleh Richards, Platt, Weber (1990); hingga kamus penerjemahan seperti Dictionary of Translation Studies oleh M. Shuttleworth dan M. Cowie (1997).  Oleh karena itu, mengingat keberadaan metodologi penelitian sangat penting maka keberadaan kamus istilah metodologi penelitian (KIMP)   semakin diperlukan oleh para peneliti. Penelitian ini  diharapkan sebagai perintis sekaligus mempunyai sisi orisinalitas yang tinggi. Titik awal dari hal tersebut adalah terjemahan istilah-istilah metodologi penelitian.

B. Batasan masalah

Dalam penelitian ini, penulis hanya menganalisis istilah-istilah metodologi penelitian yang terdapat di dalam buku Basics of Qualitative Research  Grounded Theory Procedures and Techniques karya Anselm Strauss dan Juliet Corbin dan terjemahannya.